PENGELOLAAN PERPUSTAKAAN SEKOLAH

PENGELOLAAN PERPUSTAKAAN SEKOLAH

Analisa Situasi

Keberadaan perpustakaan bagi masyarakat modern dewasa ini dirasa sangat penting, utamanya terkait dengan proses belajar mengajar. Sejak manusia mulai bisa membaca hingga memasuki bangku sekolah sampai bekerja, dalam pemikiran mereka perpustakaan selalu dikaitkan dengan buku, sedangkan buku dikaitkan dengan kegiatan belajar, baik belajar di lingkungan sekolah maupun di luar lingkungan sekolah. Anggapan ini memang tidak seluruhnya salah, tetapi juga tidak semuanya benar mengingat perpustakaan saat ini tidak hanya berisi buku-buku saja. Ada perpustakaan yang dilengkapi dengan bahan pustaka maya (virtual) ataupun terekam (recorded), bahkan tidak jarang sebuah perpustakaan yang dilengkapi dengan café, toko buku, tempat kursus ketermapilan, swalayan, dan lain-lainnya. Namun pada intinya adalah bahwa semua perpustakaan tersebut dengan berbagai keadaannya memerlukan pengolahan bahan pustaka (baca: buku) dengan manajemen yang baik. Oleh karenanya pengelolaan perpustakaan yang tersistem menjadi hal yang siginfikan yang harus dikuasai bagi para pengelola/pustakawan tersebut.
Perpustakaan memiliki fungsi sebagai tempat menyimpan khasanah hasil pemikiran manusia yang dituangkan dalam bentuk media cetak maupun non cetak. Tergolong dalam media cetak seperti buku, majalah, surat kabar dan lain sebagainya, sedangkan media non cetak seperti televisi, audio-visual, microreader, microchip, film-strip (microfilm) dan sebagainya yang merupakan produk kemajuan teknologi sampai saat ini.
Undang-undang RI No.20 Tahun 2003 tentang sistem Pendidikan Nasional pasal 54 menjelaskan, bahwa peran serta masyarakat dalam penyelenggaraan pendidikan dan pengendalian mutu pelayanan pendidikan meliputi peran serta perseorangan, kelompok, keluarga, organisasi, pengusaha dan organisasi masyarakat, dimana perpustakaan termasuk salah satu unsur penting terselanggaranya kegiatan pendidikan tersebut. Oleh karena itu keberadaan perpustakaan sekolah sangat berperan baik di sekolah maupun di masyarakat pedesaan untuk memajukan bangsa terutama dalam menyebar luaskan informasi dan cakrawala pendidikan.
Terkait hal tersebut di atas, Pemerintah Kota Semarang telah menjadikan fungsi pendidikan sebagai Prioritas Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kota Semarang, untuk mendukung visi dan misi Kota Semarang menjadi Kota Metropolitan yang Religius berbasis perdagangan dan jasa. Untuk mendukung tercapainya misi dan visi tersebut maka perlu adanya usaha pengembangan, terutama pengembangan terhadap Sumber Daya Manusia (SDM) seutuhnya dalam menghadapi era profesionalisme, guna menjawab tranformasi informasi yang kian melaju pesat dalam mewadahi dampak era globalisasi yang menembus batas infrastruktur ke daerah-daerah, baik sosial, budaya, ekonomi, termasuk sumber pengetahuan/informasi sebagai menunjang wawasan intelektual segenap anak bangsa.
Menurut pendapat Dady P.Rachmananta, ketua Ikatan Pustakawan Indonesia (IPI) di sela-sela pembukaan Rapat Kerja ke-14 Seminar Ilmiah Nasional Ikatan Pustakawan Indonesia yang bertema; “Undang-undang Perpustakaan: Era Baru Perpustakaan Indonesia” di Hotel Sunan, Solo, pada hari Selasa (13/11/2007), beliau menyatakan bahwa ada dua jenis perpustakaan yang mengalami kondisi parah sampai saat ini, yaitu perpustakaan sekolah dan perpustakaan umum, sementara perpustakaan khusus dan perpustakaan perguruan tinggi kondisinya masih lebih baik.
Selain itu dalam Undang Undang No 43/2007 tentang Perpustakaan yang disahkan pada 2 Oktober 2007, dijelaskan bahwa anggaran yang diperuntukan bagi pengembangan perpustakaan sekolah minimal harus sebesar 5% dari anggaran operasional sekolah. Dengan penjelasan ini maka merupakan kewajiban Pemerintah Daerah (Pemda) setempat melalui Dinas Pendidikan masing-masing untuk menyiapkan anggaran khusus guna memperbaiki kondisi perpustakaan sekolah yang ada. Konsekuensinya jika hal ini tidak bisa dipenuhi, maka kepala daerah yang bersangkutan dapat dikenakan sanksi administratif berupa teguran dari pejabat diatasnya (Suara Merdeka: Rabu 14 November 2007 Hal: 13 kolom 4-6).
Penyelenggaraan perpustakaan sekolah mengacu pada Undang-Undang No.2 Tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional, dimana pada Pasal 35 dijelaskan bahwa setiap satuan pendidikan jalur pendidikan sekolah, baik yang diselenggarakan oleh pemerintah maupun masyarakat harus menyediakan sumber-sumber belajar. Selain itu pasal 35 juga menyebutkan bahwa salah satu sumber belajar yang amat penting adalah perpustakaan. Pasal ini menimbulkan konsekuensi bahwa perpustakaan sekolah harus bisa menyediakan informasi bagi para tenaga kependidikan dan para peserta didik guna memperluas dan memperdalam pengetahuan mereka melalui kegiatan membaca buku dan koleksi lain yang ada di perpustakaan.
Apabila kita mau menengok lebih jauh terhadap perpustakaan sebagai pranata yang dikaitkan dengan belajar maka akan lebih mengarah pada kegiatan belajar di luar lingkungan sekolah. Namun dalam kenyataannya ada sejumlah sekolah dengan perpustakaan yang ruangannya menjadi satu denngan ruang untuk kegiatan belajar mengajar, sehingga cukup banyak kondisi perpustakaan sekolah yang belum memadai. Kondisi ini sangat kentara terlihat pada Perpustakaan Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP) baik sekolah negeri maupun swasta di lingkungan Kecamatan Gunungpati Semarang.
Kondisi perpustakaan di atas karena terkait dengan sarana dan prasarana, misalnya keterbatasan gedung, ruang yang tersedia, terbatasnya jumlah dan ragam bahan pustaka yang dikoleksi, serta belum diolahnya bahan pustaka berdasarkan sistem yang standar sesuai aturan/pedoman yang telah dibakukan, misalnya menggunakan pedoman Anglo American Cataloging Rules 2nd edition (AACR2) sebagai pedoman dalam pembuatan katalog bahan pustaka, ataupun menggunakan Dewey Decimal Clasification (DDC) sebagai pedoman dalam menentukan klasifikasi bahan pustaka, juga menggunakan Daftar Tajuk Subjek (TS) yang dikeluarkan oleh Perpustakaan Nasional RI untuk menentukan subjek suatu bahan pustaka.
Melihat fakta-fakta tersebut di atas maka patut disyukuri bahwa perhatian masyarakat terhadap perpustakaan saat ini menunjukkan peningkatan yang berarti, dan perpustakaan sekolah pun tidak luput dari perhatian ini. Pada kenyataan saat ini hampir tidak ada sebuah sekolah yang tidak memiliki perpustakaan, sebab perpustakaan sekolah diibaratkan sebagai jantungnya sekolah tersebut. Banyaknya jumlah perpustakaan sekolah di Indonesia yang setidaknya sama dengan jumlah sekolah itu sendiri, sementara pengelola perpustakaan pada umumnya masih jauh dari yang diharapkan, tak lain karena hal ini disebabkan sekolah tersebut belum mempunyai tenaga pustakawan secara khusus untuk memngelola perpustakaan tersebut. Pada umumnya pengelolaan perpustakaan sekolah tersebut dibantu oleh tenaga pengajar atau guru kelas secara terjadwal.
Keadaan tersebut tidak jauh berbeda dengan kondisi Perpustakaan Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama di Kecamatan Gunungpati Semarang. Hal ini terkuak dari hasil pengamatan salah satu anggota Tim Pengabdian kepada Masyarakat di saat anggota tersebut menghadap Kepala Dinas Pendidikan Cabang Kecamatan Gunungpati pada tanggal 7 Nopember 2007, yang sedianya memohon ijin akan mengadakan pengabdian terkait pembinaan pengelolaan perpustakaan sekolah bagi pengelola perpustakaan sekolah menengah di Kecamatan Gunungpati. Dari keadaan di lapangan, aggota Tim menyimpulkan bahwa pada umumnya perpustakaan sekolah di lingkungan tersebut masih dalam kondisi sebagai berikut:
- Bahan pustaka yang dimiliki diolah/diproses belum menggunakan pedoman yang telah

dibakukan seperti; Anglo American Cataloging Rules 2nd edition (AACR2) untuk pembuatan

katalog bahan pustaka, ataupun untuk menentukan klasifikasi menggunakan Dewey Decimal

Clacification (DDC).
- Dalam pembuatan kartu katalog dan pemberian nomor klasifikasi belum diadakan

penyesuaiann dengan pedoman yang telah dibakukan.
- Layanan peminjaman masih menggunakan cara-cara manual.
- Belum tersedianya tenaga terampil dibidang kepustakaan untuk mengelola perpustakaan

sekolah.
Berdasarkan keadaan di atas maka bagi perpustakaan tersebut perlu diadakan pembinaan bagi para pengelola perpustakaannya, agar perpustakaan dapat berdaya guna dalam menunjang proses belajar mengajar di sekolah masing-masing.

Identifikasi dan Perumusan Masalah
Tujuan didirikannya perpustakaan sekolah tidak terlepas dari tujuan diselenggarakannya pendidikan sekolah secara keseluruhan, yaitu untuk memberikan bekal kemampuan dasar kepada peserta didik yang terdiri dari siswa atau murid, selain itu juga mempersiapkan mereka untuk mengikuti pendidikan menengah.
Perpustakaan Sekolah sebagai bagian integral dari sekolah yang merupakan komponen utama pendidikan di sekolah diharapkan dapat menunjang pencapaian tujuan tersebut. Sejalan dengan hal tersebut maka perpustakaan sekolah memiliki tujuan sebagai berikut:
1) Mendorong dan mempercepat proses penguasaan teknik membaca para siswa
2) Membantu para siswa menulis kreatif dengan bimbingan guru dan pustakawan
3) Menumbuhkembangkan minat baca dan kebiasaan membaca para siswa
4) Menyediakan berbagai macam sumber informasi untuk kepentingan pelaksanaan kurikulum.
5) Mendorong, menggairahkan, memelihara dan memberi semangat membaca dan semangat

belajar para siswa.
6) Dengan membaca buku yang mengandung ilmu pengetahuan dan teknologi yang disediakan

oleh perpustakaan, maka siswa akan dapat memperluas dan memperdalam serta

memperkaya pengalaman belajar mereka.
7) Memberikan hiburan sehat untuk mengisi waktu senggang melalui kegiatan membaca,

khususnya buku-buku dan sumber bacaan lain yang bersifat kreatif dan ringan seperti fiksi,

cerpen, dan lain-lainnya.

Tujuan tersebut tergambar dengan jelas arah dan capaian yang dimasukkan dalam penyelenggaraan perpustakaan sekolah, yang dalam jangka panjangnya adalah untuk menambah dasar-dasar pengetahuan untuk menjadi fondasi bagi pengembangan selanjutnya. Sedangkan fungsi perpustakaan sekolah secara umum, yaitu edukatif, kreasi dan riset atau penelitian sederhana.
Fungsi Edukasi:
Koleksi yang dikelolanya banyak membantu para siswa sekolah untuk belajar dan memperoleh kemampuan dasar dalam mentransfer konsep-konsep pengetahuan.sehingga dikemudian hari para siswa mempunyai kemampuan untuk mengembangkan diri. Masyarakat pengguna yang berada di tempat perpustakaan bernaung mempunyai hak yang sama dalam memanfaatkan fasilitas yang disediakan oleh perpustakaan sekolah, namun demikian , dalam praktiknya, yang juga disesuaikan dengan arah pembangunan sekolah setempat yang selalu harus sejalan dengan tujuan pembangunan pendidikan yang lebih tinggi. Perpustakaan sekolah biasanya belum menjadi prioritas pelaksanaannya hal ini dimungkinkan oleh karena hasil yang dicapai oleh penyelenggaraan perpustakaan sekolah tidak langsung bisa dilihat.
Fungsi Informasi:
Berkaitan dengan penyediaan buku koleksi perpustakaan yang bersifat memberitahu hal-hal yang berhubungan dengan kepentingan siswa dan guru, karena siswa dan guru tidak cukup mengetahui hal dunia dengan hanya mendengar radio atau melihat TV, tetapi juga membaca, karena buku akan lebih unggul dibandingkan dengan media audio visual. Dengan membaca orang bisa menembus batas-batas ruang dan waktu, sehingga sebuah peristiwa yang terjadi jauh dimasa lalu bisa diketahui melalui membaca buku.
Fungsi Rekreasi:
Merupakan pelengkap untuk memenuhi kebutuhan sebagian anggota masyarakat sekolah akan hiburan intelektual, walaupun bukan utama dari dibangunnya perpustakaan sekolah namun sangat penting kedudukannya bagi upaya peningkatan kesadaran intelektual dan pembangunan inspirasi, karena kebutuhan bacaan tidak selalu yang lebih serius sehingga disediakan bacaan yang ringan yang bersifat menghibur.
Fungsi Riset:
Koleksi perpustakaan sekolah bisa untuk membantu pelaksanaan kegiatan penelitian sederhana, oleh karena itu berbagai bahan pustaka yang dikoleksi perpustakaan sekolah disimpan sebaik mungkin sehingga dapat dipergunakan nantinya sebagai bahan refensi penelitian.
Dari paparan analisa situasi dan tinjauan pustaka dapat diidentifikasi beberapa fakta bahwa tujuan perpustakaan sekolah adalah salah satu alat yang vital dalam pendidikan dan pengajaran. Namun hampir tak ada artinya jika didalam pengelolaannya tidak memberikan kemudahan, terutama bagi pengguna yang terdiri dari guru, murid dan karyawan dalam hal pelayanan untuk mendapatkan informasi yang diperlukan, untuk itu perlu adanya :
· Tenaga yang terampil dibidang kepustakaan,
· Pengolahan bahan pustaka secara benar yang meliputi pengadaan, inventarisasi klasifikasi dan

katalogisasi
· Penggunaan pedoman yang telah dibakukan yaitu Dewey Decimal Clacification (DDC) untuk

pengklasifikasian, sedangkan pengkatalogan menggunakan pedoman Anglo American

Cataloging Rules 2nd edition (AACR2),
· Pengenalan peralihan system pelayanan dari manual ke Otomasi perpustakaan

Berdasarkan kebutuhan diatas ada beberapa permasalahan yang perlu mendapat prioriatas

dalam penyelesaian yaitu bagaimana usahanya untuk memberikan pengetahuan

dan ketrampilan bagi pengelola perpustakaan untuk itu perlu adanya pembinaan diantaranya

tentang: Pengolahan bahan pustaka yang meliputi : pengadaan , inventarisasi, klasifikasi dan

katalogisasi bahan pustaka

. Penggunaan pedoman yang telah dibakukan yaitu Dewey Decimal Clacification (DDC) untuk

pengklasifikasian, sedangkan pengkatalogan menggunakan pedoman , Anglo American

Cataloging Rules 2nd edition (AACR2), Pengenalan peralihan system pelayanan dari manual ke

. Otomasi perpustakaan

TUJUAN DAN MANFAAT

Tujuan Kegiatan
Ada dua tujuan dalam Pengabdian Kepada Masyarakat dalam kegiatan pengabddian ini, diantaranya:

Tujuan Umum
Melalui pembinaan ini secara umum memberikan masukan dan bekal kepada pengelola maupun petugas perpustakaan, berupa keterampilan dan pengetahuan tentang cara mengelola perpustakaan secara benar.

Tujuan Khusus

Setelah diadakan pembinaan diharapkan pengelola perpustakaan sekolah;
a. Dapat menginventarisasi bahan pustaka secara benar.
b. Dapat mengkatalogisasi sesuai dengan pedoman.
c. Dapat mengklasifikasi sesuai dengan pedoman.
d. Dapat merencanakan pelayanan dengan menggunakan sistem pelayanan terotomasi.

Manfaat Kegiatan
Manfaat yang diperoleh dalam kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini adalah sebagai berikut:
Pengelola perpustakaan dapat menerapkan pedoman yang telah dibakukan
Pengelola perpustakaan sekolah mampu mengerjakan kegiatan rutin perpustakaan, yaitu cara-cara mengolah bahan pustaka dengan benar.
Bahan pustaka yang diolah secara benar akan mempermudah dalam mengorganisasi dan memperlancar pelayanan kepada pengguna.
Mengembangkan minat baca bagi pengguna
Dengan meningkatkan minat belajar masyarakat berarti pula telah membantu proses belajar mengajar yang berdampak meningkatkan kecerdasan bangsa.

PELAKSANAAN KEGIATAN

Kerangka Pemecahan Masalah
Setelah mempelajari dan melihat tempat dan sarana dan prasarana yang telah ada di Perpustakaan Sekolah Lajutan Tingkat Pertama di Kecamatan Gunungpati Kota Semarang ini perlu adanya:
1. Pembinaan tenaga untuk keterampilan mengelola perpustakaan sekolah.
2. Pembinaan dalam mengerjakan pengolahan bahan pustaka yang meliputi, inventarisasi,

klasifikasi, katalogisasi dan kelengkapan bahan pustaka.
3. Pembinaan dan pengenalan layanan terotomasi.
Alaternatif pemecahan masalah yang akan dilakukan dalam pengabdian kepada masyarakat ini yakni bagaimana mengintensifkan materi pembinaan pengelolaan perpustakaan sekolah. Untuk mengatasi permasalahan ini maka setiap materi pembinaan dilanjutkan dengan praktek pengolahan bahan pustaka, antara lain bagaimana cara pengadaan bahan pustaka dan inventarisasi bahan pustaka, membuat katalogisasi deskripsi, mengelompokkan atau mengklasifikasi bahan pustaka, dan pengenalan otomasi perpustakaan sehingga peserta binaan dapat menerima materi secara utuh. Cara ini lebih mudah diterima peserta karena bila peserta menemukan masalah terkait dengan materi yang diberikan maka pembina g dapat langsung memberikan solusinya.
Model atau kerangka sistem pembinaan ini dipilih karena kebanyakan peserta belum memiliki pengetahuan dan keterampilan mengelola perpustakaan sekolah secara baik. Setelah mendapatkan pembinaan secara insentif, peserta akan memiliki pengetahuan dan keterampilan bagaimana cara mengelola perpustakaan sekolah dengan baik yang dapat digambarkan melalui bagan sebagai berikut:

Model Sistem Pembinaan Penyelenggaraan Perpustakaan Sekolah

Kondisi Awal
(Masukan)
Peserta binaan belum memiliki pengetahuan dan keterampilan

mengelola perpustakaan sekolah secara baik

Proses Pembinaan
Pembinaan tentang pengelolaan perpustakaan sekolah dengan baik

Kondisi Akhir
(Keluaran)
Peserta telah memiliki pengetahuan dan keterampilan

cara mengelola perpustakaan sekolah dengan baik


Metode Kegiatan
Metode yang digunakan dalam melaksanakan kegiatan pembinaan pengelolaan perpustakaan sekolah ini untuk meningkatkan ketrampilan dan pengetahuan pengelola perpustakaan sekolah di Kecamatan Gunungpati Semarang dilakukan dengan kombinasi antara metode ceramah, tanya jawab, dan praktik, yaitu 40% penguasaan materi dan 60% praktik.
Untuk kegiatan ceramah secara klasikal diberikan materi yang meliputi: pengadaan dan inventarisasi bahan pustaka, katalogisasi deskripsi, klasifikasi, pelayanan (sirkulasi dan referensi) dengan pengenalan otomasi perpustakaan. Pada kegiatan yang lain peserta diberikan bimbingan praktik secara bersama dan individu untuk memperoleh pemahaman dan keterampilan khusus sehingga peserta dapat bekerja secara mandiri di perpustakaan yang dikelolanya.

Khalayak Sasaran
Sasaran utama pelaksanaan kegiatan pembinaan pengelolaan perpustakaan sekolah adalah pengelola perpustakaan sekolah yang terdiri dari para guru maupun karayawan yang bertugas di perpustakaan sekolah Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama di Kecamatan Gunungpati, Semarang.
Kegiatan ini diikuti oleh peserta yang berasal dari 12 SLTP yang terdiri dari SMP dan MTs yang ada di Kecamatan Gunungpati di tambah beberapa SMP dan MTs di wilayah sekitarnya, baik dari sekolah negeri maupun swasta, dimana tiap-tiap sekolah mengirimkan 2 (dua) atau 3 (tiga) orang sebagai peserta pembinaan, sehingga jumlah peserta mencapai 26 orang. Adapun bentuk kegiatan ini yaitu melalui pendidikan non-formal yang bertempat di Gedung G Lt.III UPT Perpustakaan Universitas Negeri Semarang kampus UNNES Sekaran Gunungpati Semarang.

Realisasi Pemecahan Masalah
Kegiatan pembinaan pengelolaan perpustakaan sekolah ini meliputi:
1. Persiapan
Untuk menyiapkan pelaksanaan Pengabdian Kepada Masyarakat ditetapkan:
- Lokasi tempat pengabdian
- Waktu kegiatan pengabdian
- Peserta kegiatan
- Tempat diselenggarakan kegiatan
- Materi yang disajikan, dan
- Bahan-bahan penunjang lainnya.

Pelaksanaan
Kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang berupa pembinaan pengelolaan perpustakaan sekolah dilaksanakan selama kurang lebih 4 (empat) bulan setelah penandatanganan kontrak kerja. Adapun tempat kegiatan dilaksanakan di UPT Perpustakaan Universitas Negeri Semarang di gedung G Lt. III, Kampus UNNES Sekaran Gunungpati Semarang selama 3 hari

HASIL KEGIATAN

Dari hasil evaluasi oleh Tim dijumpai bahwa kegiatan pembinaan tenaga pengelola perpustakaan sekolah yang terdiri dari Guru, Karyawan atau Penglola perpustakaan selama 3 hari dapat disimpulkan sebagai berikut:
Pelatihan Penyampaian materi secara langsung yang disertai dengan praktik akan lebih cepat dimengerti oleh peserta, seperti praktik penggunaan pedoman pengelolaan perpustakaan, yaitu dalam penggunaan pedoman pengkatalogan AACR (Anglo American Cataloging Rules) dan penggunaan pedoman pengklasifikasian DDC (Dewey Decimal Clacification).

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

1 comments:

MQRM said...

SEMOGA BERMANFAAT BAGI YANG MEMBACANYA...

Post a Comment